Senin, 22 Oktober 2012

"Ternyata Tertukar" :D

Di suatu malam yang sunyi dan gelap , terdengar suara ,yaitu suara ketika aku sedang menulis novel di laptop. Aku pun terlihat letih, dan mataku pun memerah karena terlalu lama berada di depan laptop. Namaku Nadia, aku hanya tinggal dengan Ayahku saja, sedangkan ibuku sudah meninggal ketika dia melahirkan aku,dia mengalami pendarahan hebat, oleh sebab itulah dia meninggal.


Beginilah aku, tumbuh tanpa perhatian dan kasih sayang seorang ibu, namun aku tetap bahagia karena aku memiliki Ayah terbaik di seluruh dunia. Hobiku adalah menulis novel, dan novelku tadi di buat untuk mengikuti lomba yang di adakan di sekolah. Setelah aku selesai mengerjakannya, pagi-pagi sekali aku berangkat ke sekolah untuk mengumpulkan novelku di kantor untuk di seleksi. Di sekolah aku memiliki sahabat yang bernama Syifa, dia adalah anak yang pintar dan baik hati. Ketika aku susah dia selalu membantuku ,termaasuk mengajariku mata pelajaran yang menurutku sedikit susah. Di sekolah, aku menunggu hasil pengumuman lomba menulis novel tadi dengan cemas, namun ketika aku akan pergi ke kantin untuk makan karena perutku terasa keroncongan. tiba-tiba aku di panggil bu isti untuk pergi ke kantor guru, dan katanya aku akan di beritahu sesuatu, dan ternyata aku lolos untuk mengikuti lomba menulis novel tingkat provinsi. Aku pun segera memberitahu Syifa tentang hasil lomba ini.


“ Eh Syifa! Ternyata aku lolos buat nulis novel ke tingkat provinsi “, kataku dengan gembira.


“ Oh ya..! Selamat ya, semoga ketika lomba nulis novel di tingkat provinsi nanti kamu mendapat juara pertama “, kata Syifa dengan senyuman.


Bel pulang sekolah pun telah berbunyi, aku pun segera pulang untuk memberitahu Ayahku tentang hal ini. Namun ketika di rumah ternyata Ayahku tidak ada di rumah, ya.. berhubung aku harus membuat nuvel lagi, jadi aku akan segera menulis novel itu untuk lomba. Ketika aku sedang menulis novel itu, aku belum punya cerita yang akan ku tulis, setelah berfikir dan berfikir, aku pun mendapatkan ide untuk menulis novel tentang kisah hidupku saja.


“ Ayah pulang ”, seru Ayah.


“ Oh, Ayah sudah pulang, tadi Ayah pergi kemana?”, tanyaku.


“ Oh Itu, tadi Ayah sedang ada urusan dengan tetangga,Ayah bicara tentang pembangunan di desa kita”, jawab Ayah.


Aku pun segera meneruskan untuk menulis novelku tadi. Namun, lama kelamaan aku bosen di rumah, karena tidak ada siapa-siapam untuk di ajak mengobrol. Aku pun memutuskan untuk mengajak Syifa jalan-jalan ke toko buku, sekalian juga mencari inspirasi untuk karangan novelku. Ketika di perjalanan aku dan Syifa mampir-mampir sebentar untuk makan dan sekalian juga menikmati pemandangan yang indah di sini. Setelah kenyang dan puas, akupun segera meneruskan perjalanan ke toko buku, sesampai di took buku, aku melihat banyak sekali novel-novel yang judulnya menarik, aku pun membelinya. Tetapi karena Syifa tidak suka membaca novel, jadi ia membeli buku tentang bagaimana cara melukis yang indah dan baik. Namun tiba-tiba kepalaku pusing dan perutku terasa mual.


“ Nad, kamu kenapa? Kok wajahmu pucat?”, Tanya Syifa.


“ Enggak kok, aku gak kenapa- kenapa”, kataku, karena tidak ingin membuat Syifa khawatir.


“ Yang bener? Tapi kenapa wajahmu pucat?” Tanya Syifa dengan wajah cemas.


Namun, sebelum aku menjawab pertanyaannya, tiba-tiba aku pingsan. Syifa pun kaget dan khawatir, ia pun lalu menelepon Ayahku untuk membawaku ke rumah sakit. Ayahku pun datang dan langsung menemui Syifa dan aku di toko buku.


“ Nadia kenapa , fa?”, tanya Ayah dengan wajah khawatir.


“ Aku gak tau pak, soalnya tadi Nadia tidak cerita kepadaku, kalau ia sedang sakit”, kata Syifa.


Ayah pun langsung merujukku ke rumah sakit terdekat, ketika di rumah sakit, Ayah selalu saja menunggguku di kamar rawatku, ia tak mau kalau aku kenapa-kenapa. Setelah beberapa jam ,kemudian aku sadar, aku pun merasa masih sedikit pusing dan mual, dokter pun segera memeriksaku dan menanyaiku tentang apa yang kurasakan. Setelah itu dokter pun mengambil sempel darahku untuk di periksa di lab, agar dokter bisa mengetahui dengan pasti apa yang terjadi kepadaku, dan hasilnya akan keluar lima hari lagi. Aku pun langsung di bolehkan pulang karena menurut dokter, aku hanya kecapekkan. Ketika sampai di rumah aku dan Ayahku beristirahat sebentar, di rumah Ayahku pun memanjakanku karena aku baru pulang dari rumah sakit. Namun aku menolak, aku pun lalu menulis novel lagi agar novel itu selesai tepat waktu, tetapi malah Ayah memarahiku karena Ayah masih khawatir denganku. Aku pun tidak mempedulikan itu, karena menjadi penulis novel, itulah cita-citaku sejak SD tapi tetap saja Ayah melarangku, aku pun lalu istirahat sesuai dengan keinginan Ayah. Setelah dua hari berlalu aku pun mulai pergi ke sekolah untuk menemui Syifa, dan membicarakan kejadian waktu aku pingsan di toko buku.


“ Fa, maaf ya? Kemarin aku gak mau bikin kamu khawatir “, kataku.


“ Iya Nad, gak papa! Aku tau kok alasanmu, tetapi seharusnya kalau kamu sakit kamu gak usah bohong sama aku, aku inikan sahabatmu”, kata Syifa dengan wajah cemas.


“ Iya...iya aku gak akan ulangi itu lagi kok “, kataku sambil menunduk.


Setelah bercakap-cakap dengan Syifa aku pun masuk ke kelas untukmenerima pelajaran, namun karena aku sudah dua hari tidak berangkat sekolah aku pun ketinggalan pelajaran dan untuk mengatasinya aku meminjam buku catatan Syifa untuk di salin. Bel pulang sekolah pun berbunyi, aku dan Syifa segera pulang ke rumah masing-masing, dan Syifa berjanji akan ke rumahku untuk mengajariku tentang pelajaran yang sudah aku lewatkan tadi.


“ Assalamu’alaikum?”, seru Syifa.


“ Wa’alaikumsalam, cari Nadia ya?”, tanya Ayah.


“ Iya om, Nadianya dimana om?”, tanya Syifa.


“ Tuh, Nadia ada di teras, katanya ia sedang menulis novel sambil menunggumu datang “, kata Ayah.


Syifa pun segera ke teras belakanng rumahku, diteras aku dan Syifa belajar sambil membicarakan tentang apa judul novelku, tapi aku tidak ingin memberitahunya, karena aku ingin agar novelku nanti menjadi kejutan. Syifa pun marah kepadaku karena itu tadi, ia pun bersikap cuek kepadaku, tetapi dia masih mau kok, untuk mengajariku. Setelah selesai belajar Syifa pun berpamitan kepadaku dan Ayah untuk pulang, karena Syifa sudah di suruh ibunya untuk pulang.


Setelah lima hari kemudian, hasil tesnya pun keluar, dan hasil tes itu Ayahku yang menerimanya. Namun ketika aku menanyakan tentang hasil tes itu tadi, Ayah hanya diam saja dan wajahnya pun terlihat sedih, Ayah pun langsung pergi ke kamar untuk menyimpan hasil tes itu. Aku pun bingung “ loh.. kenapa Ayah gak mau kalau aku lihat hasil tes itu? ”, batinku. Karena kau ingin tahu apa hasil tes itu, aku pun memberanikan diri untuk masuk ke kamar Ayah dan mencari hasil tes itu, karena banyak laci yang di gunakan Ayahku untuk menyimpan berkas-berkas penting, aku pun bingung untuk mencarinya. Setelah aku mencari dan mencari di semua laci, ternyata hasil tes itu tidak ada. Tetapi ketika aku memerikasanya di bawah kasur Ayah, ternyata hasil tes itu ada, aku segera saja untuk membaca hasil tes itu, namun seketika itu pula aku kaget dan sedih karena hasil tes menunjukkan bahwa aku menderita leukimia. Lalu aku lari ke kamar dan merenungkan hasil tes tadi, aku pun masih bingung, kenapa aku bis asakit leukimia, namun karena hasil tes itu aku pun kehilangan semangat untuk menjalani kehidupanku serta menulis novel. Ayah pun mengetuk pintu kamarku sambil kebingungan tentang apa yang terjadi denganku.


“ Nad, kamu kenapa?”, tanya Ayah dengan wjah cemas.


“ Kenapa Ayah tidak mau memberitahuku tentang hasil tes itu?”, tanyaku.


“ Tidak apa-pa nad, hasil tes itu menunjukkan bahwa kamu hanya kecapekkan”, jawab Ayah.


“ Ayah bohong padaku, aku menderita leukimia kan , yah!”, kataku dengan suara yang keras.


“ Kenapa kamu tahu?”, tanya Ayah.


“ Oh.. jadi benar! Aku gak mau lagi ketemu sama siapa-siapa, aku pengen sendiri “, kataku.


Ayah pun lalu merasa bersalah dan kasihan kepadaku karena kataku tadi, ia pun membawa makanan ke kamarku, karena sedari pagi sampai sore ini aku belum makan, tetapi karena sedang marah aku pun tak mau makan. Ayah pun menelepon Syifa untuk datang ke rumahku dengan maksud untuk membujukku, tetapi ketika Syifa datang datang dan bicara padaku, aku hanya diam di sisi pojok kamarku. Syifa pun bertanya-tanya “ apa yang terjadi pada Nadia ya? Kok dia berubah banget?”. Ayah pun menceritakan bahwa kau marah dan patah semangat karena aku sakit leukimia, Syifa pun kaget dan sedih mendengarnya, ia lalu pulang ke rumah dengan menangisiku.


Namun setelah beberapa hari kemudian, ada telepon dan setelahku angkat, ternyata telepon itu dari rumah sakit, dan dokter bilang kepadaku bahwa hasil tes itu tertukar dengan pasiienn lain. Kata dokter aku tidak sakit apapun, aku pun gembira dan semangatku muncul lagi, karena itu aku segera menulis novel lagi karena novel itu harus di kumpulkan dua hari lagi.


“ Kenapa kamu gembira setelah menerima telepon?”, tanya Ayah.


“ Iya yah, ternyata hasil tesku tertukar dengan tes pasien lain, kata dokter aku gak sakit apa-apa “, jawabku dengan wajah berseri-seri.


“ Alhamdulillah “, Ayah bersyukur.


Aku segera menulis novel lagi , tidak terasa ternyata hari sudah malam, paginya aku pergi kesekolah untuk bertemu dengan Syifa. Ketika bel masuk sekolah berbunyi, aku segera masuk ke kelas dan memberitahu Syifa bahwa ternyata aku tidak sakit apa-apa, Syifa merasa gembira dan lega mendengarnya. Aku pun meminta Syifa untuk membantuku mengetik novel karanganku, tak sampai satu hari novelku pun selesai, selesainya pun juga tepat waktu. Setelah novel tadi di print, segeralah aku pergi ke sekolah untuk mengumpulkan novelku. Di sekolah aku berlari untuk menuju ke kantor, sampai-sampai aku terpeleset , di kantor aku bertemu dengan bu isti dan beliau bersyukur, karena aku sudah mengumpulkan novelku dengan tepat waktu, bu isti segera mengirim novelku ke lomba menulis novel tingkat provinsi. Katanya pengumuman hasil lomba itu jam lima sore, dirumah aku harap-harap cemas menunggu telepon dari bu isti tentang hasil lomba itu. Setelah tujuh jam kemudian, bu isti meneleponku, dan katanya aku masuk di tiga besar, aku gembira dan langsung memberitahu Ayah tentang hasil lomba itu, yaa.. walaupun aku tidak juara pertama, yang penting aku sudah berusaha dengan keras.










0 komentar:

Posting Komentar